Barang – barang
yang di jual di mall rongsok, Depok, Selasa (29/10/24).
Depok, Liputan
69
- Di tengah hiruk
pikuk kota
Depok, sebuah
tempat
unik menarik
perhatian masyarakat,
yaitu Mall
Rongsok Beji. Tempat ini bukan hanya sekadar
lokasi
jualbeli, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana barang bekas dapat diolah kembali
menjadi sesuatu yangbernilai guna.
Pemilik Mall Rongsok Beji, Pak Nurcholis, yang telah menjalani bisnis sejak tahun 1993,
mengungkapkan alasan memilih bisnis ini dibandingkan
yang lain. "Lebih enak, lebih gampang," ujar Pak Nurcholis singkat namun penuh makna. Baginya, ada kepuasan tersendiri
dalam mengelola barang bekas
menjadi barang yang
layak pakai.
Mall Rongsok Beji resmi dibuka pada tahun 2010 dan sejak itu terus
berkembang. Target
pasarnya pun luas, mulai dari masyarakat umum hingga kolektor yang gemar
berburu barang bekas unik. "Banyak juga orang yang hobi dengan barang bekas, dan ada
juga kolektor," ujar
Pak
Nurcholis.
Barang-barang yang dijual di
sini beragam, mulai dari elektronik
bekas, furnitur antik, perabotan rumah tangga, alat musik, hingga barang kebutuhan lainnya. "Yang nggak ada itu
baju tas sama sepatu,
selain barang itu
ada
semua," tambah
Pak
Nurcholis.
Omset harian Mall Rongsok Beji, mencapai sekitar Rp 2 juta per hari. Hal ini
menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap barang bekas berkualitas tinggi terus meningkat,
terutama di tengah kesadaran akan pentingnya daur ulang
dan keberlanjutan.
Tak hanya sekadar menjual, Mall Rongsok Beji juga memiliki misi mulia untuk
mengedukasi masyarakat tentang pentingnya daur ulang.
Pemilik memberikan contoh bagaimana
barang
yang rusak dapat diperbaiki dan digunakan kembali. "Kita poles sedikit, barang jadi layak
pakai lagi," jelasnya. Edukasi ini diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat agar tidak
langsung membuang barang bekas, tetapi melihat
potensinya untuk digunakan kembali.
Mall Rongsok Beji bukan hanya tempat usaha, tetapi juga inspirasi bagi banyak orang. Dengan
konsep yang sederhana, tempat ini telah menjadi solusi cerdas dalam mengatasi limbah dan
mengubahnya menjadi sesuatu
yang berharga. (Lalu Mochamad Zhafif Abiyyu)

